Guns Akimbo

Kalo tangan lo adalah senjata, gimana caranya lo cebok? Susah kelez…

Ok, review ini telat, tapi ini film bioskop terakhir yang admin tonton sebelum karantina Corona. Setelah nonton film ini gue ketumpuk sama kerjaan ngurusin berita seputar virus Corona (Covid19) yang jahanam ini.

Cukup alesannya, yuk terjun langsung ke review. Ini film berantakan tapi asik dan seru. Ada 1-2 adegan yang slow, tapi overall ini film menyenangkan. Bukan film epic, tapi gue gak rugi bayar tiket untuk lihat Harry Potter man pistol-pistolan.

Secara cerita sudah bisa ditebak sebetulnya, plot twist juga meh aja, tapi ini film lucu, sadis, bego dan kalau gue belum cukup bilang: Menyenangkan.

Banyak anime yang menunjukkan karakter dengan tangan senjata atau semacamnya, film ini juga membicarakan hal ini dengan menjawab pertanyaan; kalo tangan lo senjata, lo pipis sama pakai celana gimana bro?

Gundala

Gundala hadir di bioskop sudah, dan ini review jujur kita.

Gundala besutan Joko Anwar dan Screenplay Films dibawah brand Bumi Langit hadir di bioskop sudah. Terus terang duduk di kursi bioskop sebelum film mulai penuh dengan ekspektasi dan takut dikecewakan. Gundala ini merupakan sebuah harapan akan bangkitnya komik Indonesia ke layar lebar, jadi ada keinginan untuk mendukung film ini, tapi sebagai reviewer harus jujur dan saya akan memberikan review yang objektif.

Awal mula film dengan backstorynya berawal dengan bagus. Kisah kecil Sancaka cukup membangun karakternya, namun ada yang hilang antara bagaimana ia berakhir menjadi seorang Sancaka dewasa. Emosional terlalu dibangun tanpa ada flow yang asik.

Pengenalan tokoh antagonis juga cukup baik. Semua terasa terbangun karakternya, namun sepertinya kelamaan bernaung disana sedangkan ceritanya panjang dengan karakter yang banyak.

Secara keseluruhan Gundala memiliki cerita yang menarik, namun bermasalah dalam hal memberikan porsi yang tepat. Banyak backstory terasa terlalu bertele-tele dan banyak plot utama yang terasa terlalu cepat berlalu dan kurang dalam. Cerita juga seakan lompa kemana-mana dan terjadi tanpa ada alasan yang jelas. Film ini terlalu banyak mengenalkan karakter namun tak cukup waktu, sehingga karakter penjahat banyak yang seakan “dia siapa sih? kok cupu”.

Overall, ini film memang tidak sempurna, tapi permulaan yang bagus. Mungkin ada versi re-edit atau director’s cut yang jauh lebih make sense. Kalau harus kasih nilai, ini 6/10 lah.

John Wick: Chapter 3 – Parabellum

Motivasi membalaskan dendam pembunuh anjing peliharaan serta pencuri mobilnya, John Wick mengejutkan para penggemar film action dengan aksi memukau di tahun 2014. Penonton kembali bertemu dengannya melalui aksi John Wick di dunia mantan pembunuh bayaran pada film keduanya John Wick: Chapter 2.

Kali ini, John Wick kembali menunjukkan aksinya di film ketiga berjudul John Wick: Chapter 3 – Parabellum. Parabellum berhasil membuktikan kualitas dan konsistensi franchise John Wick, dengan kembali memberikan aksi luar biasa yang mengingatkan penonton terhadap kemampuan mematikan John Wick yang terkenal dengan sebutan Baba Yaga.

John Wick 3 melanjutkan langsung dari akhir film kedua, dimana ia diputus-hubungan keanggotaan dan menjadi buronan High Table. Sebagai orang yang telah dilabel Excommunicado (putus hubungan) Ia kehilangan akses dan haknya di dunia kriminal, serta menjadi incaran semua pembunuh bayaran diluar sana.

Film langsung lompat ke aksi John Wick yang melarikan diri di tengah kota New York. Film berhasil menarik fokus dan perhatian penonton atas marabahaya yang selalu dihadapi John Wick. 20 menit pertama film ini tuh paling seru dibanding film action lainnya yang keluar beberapa tahun ini.

Terus terang dari segi cerita, film ini kurang banget, tapi kita beli tiket nonton John Wick bukan untuk nonton drama. Action Bro, non stop dan selalu memukau. Bikin kesal nonton season 8 Game of Thrones sampai lupa.

Creme-de-la-creme adalah penampilan jagoan silat Indonesia Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman yang epic banget. Gue dan crew HeyBro.tv recommended banget film ini. Gak banyak mikir, seneng dan senyum terus, pulang happy.

Aladdin, Film Buat Adek Lo

Bukannya gak bagus, tapi ya bukan buat kita para Bro sih, kecuali lo emang suka sama film yang joget-joget drama gitu. Kurang lucu sih menurut kita bro, tapi para anak SD yang nonton disebelah pada ketawa.

Will Smith sebagai Jin biru melakukan acting yang bagus, tapi kayaknya film ini sudah dikutuk diawal karena sangat sulit melawan acting sang Legendaris Robin Williams. Yang jelas film kartun memiliki starpower yang susah disaingi film ini, sampai ke lagu yang dinyanyikan.

Andai saya ABGeh yang lahir tahun 90an akhir, mungkin gue bisa enjoy nih film lebih, sayangnya film lama selalu menghantui selama gue nonton film ini.

Avengers: Endgame

Lelaki besar bertato yang duduk disebelah saya itupun menangis. Yes, ini film yang kalian tunggu dan kalian gak nyesel harus nunggu. It is that EPIC.

Endgame melanjuti kisah Avengers Infinity Wars, karena memang film ini di produksi secara back-to-back. Setelah para pahlawan dan setengah populasi galaxi hilang bagai sulap murahan pak Tarno oleh pak Thanos (plok-plok-plok), para Avengers menyusun cara membalikkan dampak dari infinity stones.

Tanpa spoilers, film ini banyak banget plot twist-nya. Bagi yang ngikutin komik Marvel, lo bakal banyak senyum kegirangan disini. Waktu 3 jam menonton film ini worth it banget. Kita dibawa kebermacam petualangan dan semua karakter Avengers OG tampil bersinar semua, termasuk mas Hawkeye.

Jangan percaya Trailer, filmnya jauh lebih Epic.

Bohemian Rhapsody ROCKS!

Penampilan Rami Malek sebagai Freddy Mercury pantas mendapatkan Oscar. Dokumenter penyanyi legendaris dan band Queen ini luar biasa Epic. Ini tak sekedar sebuah film dokumenter, tapi juga sebuah konser Rock!

Film ini tak hanya digarap secara serius, tapi juga mendapat arahan langsung dan harus mendapat persetujuan dari para anggota band Queen. Sebuah cerita bagaimana awal Queen terbentuk dan setiap proses pembuatan lagu, semua dari sudut pandang Freddy Mercury.

Ini adalah salah satu film yang menurut kami akan tercatat sebagai film legendaris yang selalu diingat. Queen is imortalized.

Liam & Laila

Film ini bercerita tentang Liam (Jonatan Cerrada), pemuda asal Perancis, yang jatuh cinta kepada Laila (Nirina Zubir), gadis Minangkabau yang berpendidikan tinggi dan sangat menjunjung tinggi tatanan budaya kampung halamannya. Latar belakang yang jauh berbeda membuat Liam dan Laila menghadapi banyak tantangan dalam menjalani kisah asmara mereka.

Jarang-jarang ada film yang secara serius mengangkat budaya Minangkabau, Liam dan Laila ini salah satu yang cukup berbeda. Dibuat berdasarkan kisah nyata, drama cinta dua anak manusia yang tidak direstui ini cukup unik karena perjalanannya. Film ini bercerita tentang Liam (Jonatan Cerrada), pemuda asal Perancis, yang jatuh cinta kepada Laila (Nirina Zubir), gadis Minangkabau yang berpendidikan tinggi dan sangat menjunjung tinggi tatanan budaya kampung halamannya. Latar belakang yang jauh berbeda membuat Liam dan Laila menghadapi banyak tantangan dalam menjalani kisah asmara mereka.

Bagi saya ceritanya cukup datar dan biasa, tidak ada plot twist yang menarik, ditonton sebagai cerita apa adanya. Secara sinematografi, cerita dan pembawaan, film ini cukup enak ditonton walau tidak ada yang spesial. Cukup wajar dan normal, walau ada sih 1-2 hal yang rada overacting, namun mungkin itu kekurangan atau bisa jadi kekuatan film ini. Laila yang jatuh cinta pada Liam harus mempertahankan cibiran orang-orang yang belum terbuka akan hal baru.

Walau tidak mau bernada bias karena ada anggota HeyBroTV di film ini, terus terang Pras Teguh bersinar banget walau hanya sebagai pemeran pembantu. Pras yang berperan sebagai adik Laila bernama Pian, memiliki peran yang cukup besar dan menjadi bumbu komedi film ini. Celotehan Pian yang mencoba membantu Liam cukup memecah cerita yang terlalu serius dan wajar ini. Bagi saya Pras stole the show, setidaknya punya banyak screen time berbicara dari film-film lebih besar yang ia perankan.

Bagaimana menurut kamu? Apa kita terlalu bias review film ini karena takut dimarahin Pras Teguh? Tulis komentar kamu dibawah. Sementara itu saya mengajak anda menonton film ini mulai 4 Oktober besok. Saya sudahi celotehan review ini dengan lagu Lintas Galaxi yang dinyanyikan sang bintang Jonatan Cerrada yang menjadi OST film ini.

 

Wiro Sableng

Film yang dibesut oleh 20th Century Fox dan Lifelike Pictures ini cukup membuat banyak khalayak penasaran, dan hype menuju ke pemutaran sendiri cukup besar seperti muncul parodi trailer Deadpool 2, dan lainnya. Namun dalam hal pengambilan dan penyajian gambar membuat banyak yang sedikit khawatir, dikarenakan masih terasa sinetron. Semoga cerita dapat membuktikan bahwa film ini sesuai dengan janji hype selama ini. 

Nusantara, abad ke-16, Wiro Sableng (Vino G Bastian), seorang pemuda, murid dari pendekar misterius bernama Sinto Gendeng (Ruth Marini), mendapat titah dari gurunya untuk meringkus Mahesa Birawa (Yayan Ruhian), mantan murid Sinto Gendeng yang berkhianat. Dalam perjalanannya mencari Mahesa Birawa, Wiro terlibat dalam suatu petualangan seru bersama dua sahabat barunya Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi). Pada akhirnya Wiro bukan hanya menguak rencana keji Mahesa Birawa, tetapi juga menemukan esensi sejati seorang pendekar.

Film yang dibesut oleh 20th Century Fox dan Lifelike Pictures ini cukup membuat banyak khalayak penasaran, dan hype menuju ke pemutaran sendiri cukup besar seperti muncul parodi trailer Deadpool 2, dan lainnya. Namun dalam hal pengambilan dan penyajian gambar membuat banyak yang sedikit khawatir, dikarenakan masih terasa sinetron.

:: Spoiler Alert ::
Setelah batas ini, artikel mengandung sedikit spoiler. Intinya buat kami film ini oke dan layak ditonton, namun bukan film yang keren banget apa lagi sempurna.

Untuk sebuah film heroik, Wiro Sableng tidak mengikuti hero arc dengan benar. Wiro sendiri tidak terlihat sebagai pendekar yang sakti namun tertutup oleh sifat konyolnya, namun seperti pendekar sombong yang terlihat konyol. Saat Wiro kalah dan jatuh, ia tak menemukan sebuah semangat baru atau sebuah pelajaran. Ia hanya seorang pendekar yang menjadi alat raja untuk mengambil kembali kekuasaannya.

Special effectnya sangat film buatan Hong Kong tahun 90an, ya artinya lumayan cuman ya 90s banget. Gue akan kasih nilai plus kalau beberapa CGI gak perlu dipake, seperti disaat Wiro turun gunung yang spektakuler di awal ataupun beberapa adegan kampak yang keliatan banget kalo palsu. Lebih kelihatan asli stuntmannya Jokowi pas pembukaan Asian Games.

Pembangunan karakter juga kurang, walau tidak terlalu penting. Bonus aja sih jika kita bisa paham siapa itu Anggini dan Bujang, namun sepertinya sebagai film pertama terlalu banyak yang ingin dikenalkan sehingga cerita terasa padat. Sayangnya terasa kurang lengkap aja.

Cerita utama cukup bagus, berharap aja ada plot twist namun tak terjadi. Okelah film ini, gue sangat terhibur dan berharap sequel kedepan lebih keren lagi.

D.O.A (Doyok, Otoy, Ali Oncom)

Kelihatannya menjanjikan, tapi dulu Warkop Reborn juga kelihatannya menjanjikan. Sebuah film komedi yang gak lucu.

MD Pictures dan HOOQ Originals menghadirkan sebuah film komedi baru yang merupakan saduran dari komik-komik paling populer di koran Pos Kota: Doyok, Otoy dan Ali Oncom. Disutradarai oleh Anggy Umbara yang terkenal membawa jutaan penonton pada film-film buatannya yang sebagian besar adalah film komedi.

Film komedi di Indonesia adalah salah satu genre film yang cukup banyak diproduksi, namun belum menemukan sebuah keseimbangan yang sejati. Ada film yang memiliki cerita bagus dan lucu banget tapi kualitas produksinya sinetron. Ada yang produksinya bagus tapi ceritanya busuk. Ada yang sudah cerita dan kualitas bagus tapi actingnya pas-pas-an.

Sayangnya film DOA yang singkatan dari Doyok, Otoy & Ali Oncom juga masuk kedalam kategori tersebut. Para pemain film ini adalah aktor-aktor yang cukup kawakan, terutama Nirina Zubir yang tampil all out disini. Dari sisi acting oke. Pembangunan karakter sendiri juga cukup bagus, atau mungkin karena banyak yang tahu siapa karakter komik mereka (termasuk saya) jadi introduction baik Doyok, Otoy maupun Ali Oncom tidak terlalu susah. Kualitas produksi gak sinetron lah, walau gak film juga. Kalau kata anak cinematography (kuliahnya, walau gue gak pernah ngecek bener apa nggak) yang duduk disebelah gue dan nyerocos mulu, katanya cahaya terlalu kuat dan gambar gak fokus pada tokoh utama.

Dengan semua kekuatan diatas, sayangnya ceritanya gak jelas dan berantakan. 10 menit film terasa cukup promising, namun setelah itu film seperti mau melakukan terlalu banyak dan tidak fokus. Cerita seakan dipaksakan serta jokes-jokes gak ada yang kena. Gue ngerti itu jokes receh, tapi anak SMA yang duduk gak jauh dari gue itu gak ketawa. Nobody gets it. Bahkan kehadiran pelawak kaliber Srimulat terasa hambar. Talent natural beliau tidak digunakan.

Penggunaan “Breaking the 4th Wall” yang sering terjadi sama sekali garing dan gak berfaedah banyak pada cerita maupun mengundang tawa.

Terus terang gue curiga ini adalah film yang banyak campur tangan dari produser. Standup comedian Fico Fachriza sang penulis cerita sepertinya tidak dirinya sendiri. Apa karena produser ingin penonton banyak maka jokes-jokes terasa oplosan dari cerita yang harusnya untuk penonton 17 tahun keatas (karena ada beberapa scene yang tampaknya gak cocok dengan film untuk dibawah 17 tahun).

Apa mungkin juga ada tuntutan mendapatkan penonton berdasarkan benchmark film sukses Anggy terdahulu seperti Warkop? Soalnya cerita film ini terasa film Warkop Reborn banget. Apa mungkin sutradara dan penulis film terpaksa melakukan semua ini karena ada joke dalam film yang sepertinya protes sutradara film, dimana ia berpose jadi produser dengan baju sang producer. Jokenya gak lucu bagi yang ngak ngerti industri film.

Bagaimanapun, walau gak lucu gue yakin film ini tembus 1 juta penonton. Kan lagi musim jualan film nostalgia.

Mile 22

Gue akan jujur dulu di depan. Film garapan sutradara kondang Peter Berg ini diharapkan menjadi seri pertama dari sebuah franchise baru film action (karena sequel sudah siap di shoot dan akan ada spin-off series TV). Secara cerita terus terang kurang enak diikuti, terlalu dipaksakan dalam pengenalan karakter. Mungkin karena waktu film yang dibatasi. Dari seorang Peter Berg (kalo lo pernah nonton film-filmnya), lo akan mengharapkan sesuatu yang lebih terorganisir.

Film action ini lumayan kekinian. Tokoh keren, cerita dengan plot twist pengkhianatan, dan pengkhianatan, dan… komplit deh. Ujung ke ujung ini emang film action, dan Iko keren banget (dan ini bukan karena gue orang Indonesia ya). Berg mencoba menyajikan gaya pengambilan gambar action yang baru, sebuah kawin silang antara Bourne dan realisme sudut pandang action dari sisi chaos orang ketiga. It works (and sometimes it doesn’t), adegan action keren walau kadang asap dan chaos bikin mata gue kudu nyari apa dimana. Semua adegan close counter combat Iko maupun Rousey detail dan keren. Film ini mengantisipasi keinginan kamu akan film action dan melebihinya.

Sinopsis tanpa spoiler: Mark Wahlberg dan team adalah tentara siluman yang tidak resmi, selalu digunakan sebagai opsi ketiga. Mereka bukan orang baik dan bersih. Iko pembelot dari negara khayalan di Asia dengan info penting yang baru akan ia sampaikan setelah diamankan ke Amerika. Nama film ini kurang lebih cerita jarak Iko harus diantar. Ini film tipe propaganda “Horee Amerika Menang” yang kerasa banget, namun buat Indonesia ini kebanggaan karena selain Iko Uwais naik daun jadi superstar martial arts yang digadangkan kini selevel dengan Jacky Chan (gue ga tau kenapa, jelas genre-nya beda), tapi juga kado spesial untuk 73 tahun Indonesia merdeka karena di rilis pada 17 Agustus 2018.

Saran saya, ini film kudu ditonton dan dinikmati sebagai film action. Kalau suka ya nantikan sequelnya.